Share

Prof. Reda Manthovani: Dari Panggung Dongeng, Anak Belajar Berani Bersuara

Bogor – Menurut Prof. Dr. Reda Manthovani, S.H., L.L.M., storytelling bukan sekadar aktivitas anak-anak untuk menghibur penonton.

Di balik sebuah cerita yang disampaikan seorang anak, ada proses panjang dalam mengolah pikiran, memahami pesan, menghayati emosi, kemudian menyampaikannya kepada orang lain.

Karena itu, Reda melihat kegiatan mendongeng seperti Suara Nusantara yang diinisiasi sang putri, Cahaya Manthovani, sebagai salah satu latihan penting dalam pembentukan karakter.

“Storytelling ini adalah kegiatan dalam mengolah pikiran. Pikiran yang ada di dalam diri masing-masing anak itu untuk bisa dicetuskan keluar. Dan itu terus dilatih,” ujar Reda Mathovani, Inisiator Yayasan Inklusi Pelita Bangsa sekaligus Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (JAM-Intel) Kejaksaan Agung Republik Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Reda, keberanian untuk berbicara tidak muncul begitu saja. Seorang anak perlu memiliki ruang untuk berlatih. Ia perlu belajar mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya, belajar menyusun kata-kata, dan belajar menyampaikan pendapat kepada orang lain.

Storytelling memberikan ruang tersebut. Anak tidak hanya menghafalkan sebuah cerita, tetapi juga belajar memahami karakter, konflik, emosi, dan pesan yang terdapat di dalamnya. Dari sana, anak belajar menyampaikan kembali apa yang telah dipahaminya.

“Pelatihan itu yang nantinya pada akhirnya akan membentuk karakter anak-anak Indonesia untuk berani bersuara, berani mengungkapkan pendapatnya,” katanya.

Reda melihat kemampuan tersebut memiliki hubungan dengan masa depan Indonesia. Menurutnya, generasi yang sejak kecil terbiasa menyampaikan gagasan akan memiliki modal penting ketika memasuki kehidupan sosial, pendidikan, maupun dunia profesional.

“Kita bisa lihat nanti Indonesia di tahun 2045 akan banyak pemimpin-pemimpin Indonesia yang tangguh, yang pandai mengungkapkan pendapatnya secara utuh,” ujarnya.

Namun, ada satu hal yang menurutnya tidak boleh hilang, yakni identitas budaya. Kemampuan berbicara dan berpikir maju harus berjalan bersama dengan pemahaman terhadap budaya sendiri.

Menurut Reda, cerita rakyat memiliki posisi penting. Anak-anak dapat belajar berbicara sekaligus mengenal cerita, bahasa, nilai, dan budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa.

Pada akhirnya, sebuah panggung dongeng mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Bagi seorang anak, keberanian untuk berdiri di atas panggung, melihat penonton, membuka suara, dan menyelesaikan sebuah cerita dapat menjadi pengalaman yang membekas sepanjang hidup.

Itulah yang membuat Reda melihat storytelling lebih dari sekadar perlombaan. Di balik panggung itu, ada proses membentuk manusia. Manusia yang berani berpikir, berani berbicara, berani menyampaikan pendapat, dan tetap mengetahui dari mana ia berasal.

Festival Mendongeng Suara Nusantara 2026, Reda Manthovani, Suara Nusantara, Suara Nusantara 2026