Share

Human First dan Work-Life Balance: Prinsip Organisasi Humanis ala Pratikno

Jakarta – Bagi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, membangun organisasi yang kuat tidak cukup hanya dengan target dan angka capaian. Fondasinya justru terletak pada manusia yang bekerja di dalamnya.

Pemikiran itu ia tuangkan dalam buku Membangun Organisasi Cerdas dan Humanis, yang merangkum 107 kisah nyata dari internal Kemenko PMK sepanjang 2025.

Buku tersebut bukan sekadar dokumentasi program, melainkan refleksi transformasi budaya kerja, mulai dari perhatian pada kesehatan mental pegawai hingga pemanfaatan teknologi untuk kebijakan publik yang lebih presisi.

Pratikno menyebut ada tiga prinsip utama dalam membangun organisasi yang cerdas sekaligus humanis. Pertama, human first dan work-life balance.

Ia menilai lingkungan kerja yang sehat secara mental adalah prasyarat lahirnya inovasi. Organisasi yang mengabaikan keseimbangan hidup pegawai justru berisiko kehilangan produktivitas.

Kedua, pemanfaatan teknologi dan pengelolaan waktu. Semua orang memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari. Perbedaannya terletak pada bagaimana pekerjaan dipilih dan diselesaikan.

Teknologi, termasuk AI, menurutnya dapat membantu menyederhanakan proses kerja dan meningkatkan efektivitas birokrasi.

Ketiga, kolaborasi lintas peran. Tantangan pembangunan manusia semakin kompleks, mulai dari isu keluarga, kesehatan mental, hingga dampak disrupsi digital.

“Karena itu, birokrasi tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, hingga sektor swasta menjadi kunci adaptasi,” tuturnya.

Konsep smart ministry yang ia dorong juga lahir dari kesadaran tersebut. Digitalisasi dan AI dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, serta akurasi kebijakan publik yang ia sebut sebagai precision policy.

Namun di atas semua itu, Pratikno kembali menegaskan satu hal: pembangunan manusia selalu bermula dari fondasi paling dasar, yakni keluarga. Ia melihat keluarga sebagai ruang pembentukan karakter, kesehatan mental, serta kesiapan generasi menghadapi masa depan digital.

Di tengah dominasi layar, ia mendorong keseimbangan antara screen time dan green time, lebih banyak aktivitas fisik, interaksi sosial langsung, dan ruang terbuka sebagai penopang kesehatan mental.

Pesan yang mengalir dari seluruh gagasannya jelas: kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan sisi humanisnya. Baik dalam keluarga, organisasi, maupun negara, manusialah yang harus tetap menjadi pusat dari setiap perubahan.

Ia juga menekankan pentingnya kehadiran negara untuk memastikan transformasi digital tidak memperlebar jurang sosial.

“Oleh karena itu, negara harus hadir memastikan teknologi justru menutup jarak sosial, bukan memperlebar. Teknologi harus membuka akses bagi yang tertinggal,” Pratikno menegaskan.

Bagi Pratikno, visi pembangunan manusia di era digital tidak cukup hanya berbicara tentang kecanggihan sistem. Yang lebih penting adalah memastikan setiap inovasi tetap berpijak pada nilai kemanusiaan. Pada akhirnya, teknologi hanyalah instrumen, sementara manusia tetap menjadi pusatnya.

Cahaya Manthovani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno