Share

From My Journal to You: Perjalanan Cahaya Manthovani Menemukan Kepercayaan Diri

Jakarta Di balik berbagai aktivitasnya di industri kreatif dan kegiatan sosial, Cahaya Manthovani membagikan sisi yang lebih personal melalui sebuah unggahan bertajuk “From My Journal to You”.

Bukan sekadar rangkaian foto dan video, unggahan tersebut menjadi refleksi perjalanan panjang tentang keberanian untuk bertumbuh, menghadapi ketakutan, dan belajar menjadi diri sendiri.

Melalui tulisannya, Cahaya mengungkapkan kepercayaan diri bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan sesuatu yang dibangun perlahan, melalui proses dan keberanian untuk terus melangkah.

Cahaya mengenang dirinya sebagai sosok yang pemalu dan lebih nyaman berada di balik layar.

“My name is Cahaya, it means ‘Light’. But growing up, I was always the kid behind the stage. Shy. Quiet. Watching everyone else shine first. I never imagined I’d be the one in the spotlight,” tulis Cahaya.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia akan berdiri di depan publik, berbicara di hadapan banyak orang, maupun memimpin berbagai kegiatan yang melibatkan banyak pihak. Namun, menurut Cahaya, perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.

Dalam salah satu bagian unggahannya, Cahaya mengisahkan bagaimana ia harus belajar sendiri, menghafal tanpa henti, bahkan kehilangan waktu istirahat demi mempersiapkan diri.

“No coach, no guide. No script that actually worked. I memorized endlessly and lost sleep. Felt like a robot every single time. But I kept showing up anyway,” lanjutnya.

Bagi Cahaya Manthovani, rasa takut dan ketidaknyamanan adalah bagian dari proses. Yang terpenting adalah tetap hadir dan terus mencoba, meski belum merasa sempurna.

Di tengah proses tersebut, ada satu pesan sederhana yang terus diingat Cahaya, yakni nasihat dari sang ayah, Prof. Dr. Reda Manthovani. “My dad always said: start, even if it feels small. Even if it feels meaningless.”

Seiring waktu, Cahaya menyadari sang ayah benar. Kepercayaan diri bukanlah sesuatu yang dimiliki sejak lahir, melainkan hasil dari keberanian untuk terus memulai dan mengulangi proses tersebut.

“Confidence isn’t something you’re born with. It’s something you build through repetition, through showing up, through doing it scared. He was right,” ucapnya.

Cahaya juga mengungkapkan orang-orang sering mengatakan dirinya telah banyak berubah. Namun baginya, ia tidak berubah, tetapi hanya mulai berani menunjukkan dirinya yang sebenarnya.

“People say, ‘You’ve changed so much.’ I didn’t change. I just finally started showing up as myself. Turns out, that was enough.”

Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk bertumbuh dan menemukan versi terbaik dirinya.

Di akhir refleksinya, Cahaya menyampaikan satu pesan yang menjadi inti dari seluruh perjalanannya.

“Figuring things out the hard way is tough. But that’s exactly what makes it yours. Build it rep by rep. Confidence isn’t given, it’s grown. That’s the only way it sticks.”

Bagi Cahaya Manthovani, kepercayaan diri bukanlah hadiah yang datang begitu saja. Ia tumbuh dari proses, dari kegagalan, dari keberanian untuk mencoba, dan dari keputusan untuk tetap melangkah meski masih diliputi rasa takut.

Melalui kisah sederhana yang dibagikannya, Cahaya ingin mengingatkan tidak ada perjalanan yang instan. Setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten pada akhirnya akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat dan percaya pada dirinya sendiri.

Cahaya Manthovani