Navaswara.com – Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, Indonesia menyimpan ribuan cerita rakyat yang hidup di setiap daerah. Kekayaan naratif ini, menurut Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, merupakan national treasure yang nilainya setara dengan sumber daya alam negeri ini.
“Tradisi lisan adalah warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh nenek moyang kita, salah satunya dalam bentuk cerita rakyat,” ujar Menteri Fadli saat dijumpai Navaswara di Fadli Zon Library.
Ia menjelaskan, tradisi ini telah berkembang ratusan hingga ribuan tahun, lahir dari berbagai kerajaan di Nusantara dan terus berevolusi hingga kini.
“Cerita-cerita rakyat, sastra lisan, dan tradisi lisan kita jumlahnya luar biasa banyak,” katanya.
Menurut Fadli, kekayaan ini tak seharusnya berhenti di arsip atau museum, tetapi perlu dihidupkan kembali melalui berbagai medium kontemporer, mulai dari wayang, film, komik, teater, hingga game dan animasi.
Ia mencontohkan kisah Panji yang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Singasari dan mencapai puncak kejayaan di era Majapahit. “Cerita Panji berkembang tidak hanya di Nusantara, tapi juga ke negara-negara tetangga,” jelasnya.
Narasi ini bahkan menyebar hingga Asia Tenggara dan diduga turut memengaruhi kisah klasik seperti Layla Majnun di Asia Tengah. Cerita-cerita semacam itu, lanjutnya, terus hidup karena diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
“Menjadi dongeng, menjadi cerita yang diceritakan dari bapak ke anak, dari kakek ke cucu, dan seterusnya,” ujar Fadli. Ia menilai proses pewarisan ini bukan sekadar menjaga kisah tetap hidup, tetapi juga menanamkan nilai-nilai seperti keteladanan, semangat, optimisme, dan cinta Tanah Air.
Dongeng sebagai Ekosistem Baru
Menteri Fadli tak hanya berbicara soal pelestarian, melainkan juga tentang menghidupkan kembali ekosistem dongeng di tengah masyarakat.
“Dongeng sudah menjadi tradisi di rumah-rumah kita. Biasanya sebelum tidur, orang tua menceritakan kisah rakyat kepada anak-anak,” katanya.
Melalui tradisi ini, nilai-nilai moral diwariskan dengan cara yang sederhana namun membekas. “Setiap daerah punya cerita rakyat yang unik, dari Malin Kundang hingga Sangkuriang,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti lomba mendongeng dan lomba menulis cerita rakyat dapat memperluas partisipasi masyarakat agar tradisi ini kembali tumbuh dan menjadi ruang kreatif yang hidup.
Menurut Fadli, film adalah medium budaya paling utuh karena menggabungkan berbagai unsur seni sekaligus: akting, sastra, musik, mode, bahkan kuliner. “Kalau cerita rakyat kita diangkat ke layar lebar, dampaknya akan luar biasa,” ucapnya.
Ia mengenang masa kecilnya saat dongeng hidup lewat siaran radio dan kaset Sanggar Cerita yang mencapai ratusan episode. “Ada cerita Timun Mas, Ande Ande Lumut, dan banyak lagi. Itu semua bagian dari khazanah budaya kita,” kenangnya.
Fadli mengaku memiliki koleksi sekitar 31.000 kaset Indonesia, tidak ada yang sama, dan sebagian besar berisi musik serta cerita rakyat dari berbagai daerah.
Namun, ia mengingatkan bahwa banyak cerita rakyat kini terancam hilang karena penuturnya semakin sedikit, terutama di komunitas adat. Karena itu, program pendokumentasian melalui komunitas seperti Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia yang terakreditasi UNESCO menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan warisan ini.
Pelestarian Merambah Monetisasi
Hal yang menarik dari pandangan Fadli adalah cara berpikirnya yang melampaui pelestarian pasif. Baginya, cerita rakyat merupakan intellectual property (IP) yang bernilai ekonomi dan dapat dikembangkan menjadi produk industri kreatif.
“Cerita-cerita tradisi lisan bisa menjadi IP yang menarik dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Ia mencontohkan negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan yang berhasil menjadikan budaya populer mereka sebagai penggerak ekonomi. Pokemon, Hello Kitty, K-pop, dan drama Korea adalah contoh budaya lokal negara lain yang bisa mendunia.
“Korea tidak lagi bergantung pada sektor ekstraktif. Mereka mengandalkan pop culture dan industri hiburan. Jepang juga demikian dengan IP mereka. Kita punya bahan yang melimpah. Yang dibutuhkan adalah pemahaman tentang bagaimana mengelola dan memonetisasinya,” tekannya.
Budaya sebagai Mesin Ekonomi
Fadli meyakini arah pembangunan ke depan harus berpijak pada cultural economy dan cultural industry. “Budaya bisa menjadi engine of growth, sumber pertumbuhan. Melestarikan bukan hanya melindungi, tapi juga mengembangkan, memanfaatkan, dan membina,” tegasnya.
Ia melihat game dan animasi sebagai medium paling potensial untuk menjangkau generasi muda. “Konsumsi budaya kini sudah digital. Kalau cerita rakyat hadir dalam bentuk game atau animasi, generasi muda akan lebih mudah memahami dan mencintainya,” ujarnya.
Diplomasi kebudayaan, menurutnya, juga penting untuk membuka ruang bagi seniman Indonesia tampil di panggung internasional. Namun lebih dari itu, ekosistem budaya perlu dibangun agar warisan Indonesia tidak hanya tampil sesaat, melainkan tumbuh menjadi industri kreatif yang berkelanjutan.
Untuk generasi muda Indonesia, Fadli menyampaikan cerita rakyat Nusantara adalah tambang emas yang belum digarap. “Ini bisa menjadi IP yang kuat dan bisa diekspor ke luar negeri,” katanya.
Dengan ribuan cerita yang tersebar dari barat hingga timur Indonesia, generasi kreatif punya bahan melimpah untuk dikembangkan menjadi film, game, komik, animasi, dan karya digital lainnya. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menafsirkan ulang dan menghidupkan kembali kisah-kisah yang selama ini tersimpan di arsip tradisi.
Seperti yang ia tuturkan, “Kita harus bersama-sama memajukan budaya kita”—sebuah amanat konstitusi dalam Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 yang kini menemukan maknanya di era industri kreatif.
