Bogor – Ada satu hal yang paling menarik perhatian Cahaya Manthovani, Ketua Panitia Festival Suara Nusantara sekaligus Managing Director PT Navaswara Bhuwana Kencana dalam perjalanan Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara: jumlah anak dan masyarakat yang ingin bercerita ternyata terus bertambah.
Ketika pertama kali digelar di Jakarta pada 2025, Suara Nusantara diikuti sekitar 300 peserta. Pada penyelenggaraan berikutnya di Banten pada 2026, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 500 peserta. Masih pada tahun ini, ketika festival hadir di Jawa Barat, jumlahnya melonjak menjadi 1.120 peserta dari 16 kabupaten dan kota.
Bagi Cahaya, angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia melihatnya sebagai tanda cerita rakyat masih memiliki tempat di tengah masyarakat, bahkan ketika generasi muda semakin dekat dengan gadget dan berbagai bentuk hiburan digital.
“Antusiasmenya sangat besar. Pada penyelenggaraan awal di Jakarta, jumlah peserta sekitar 300 lalu naik menjadi 500 saat di Banten, dan kali ini total peserta yang mendaftar di Jawa Barat ada sekitar 1.120 peserta dari 16 kabupaten dan kota,” ujar Cahaya.
Jawa Barat dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan tahun ketiga bukan tanpa alasan. Selain memiliki kekayaan cerita rakyat dan bahasa daerah, tingginya partisipasi masyarakat membuat festival membutuhkan ruang yang lebih besar.
Skala acara pun berkembang. Panggung harus lebih representatif, venue harus mampu menampung lebih banyak peserta dan penonton, sementara pengalaman yang diberikan kepada para pendongeng juga harus semakin baik.
Namun, bagi Cahaya, pertumbuhan Suara Nusantara bukan semata-mata tentang membuat acara menjadi lebih besar.
Ada gagasan yang jauh lebih penting di baliknya yakni bagaimana membuat anak-anak kembali memiliki keberanian untuk bercerita.

Cahaya melihat storytelling sebagai keterampilan yang semakin relevan di masa depan. Menurutnya, seseorang yang mampu bercerita dengan baik bukan hanya mampu menghibur.
Ia juga mampu menyampaikan gagasan, membangun emosi, menjelaskan sesuatu dengan lebih mudah dipahami, dan membuat orang lain mau mendengarkan. Kemampuan tersebut bahkan sangat relevan dengan perkembangan dunia digital.
“Storytelling ini bukan hanya untuk mendongeng, bukan hanya untuk cerita rakyat saja. Skill ini bisa dipakai untuk masa depan,” kata Cahaya.
Ia mencontohkan dunia content creation. Di tengah begitu banyaknya konten yang bersaing mendapatkan perhatian audiens, kemampuan membuat alur cerita yang menarik menjadi penting untuk mempertahankan perhatian penonton.
“Kalau ingin membuat retensi penonton lebih lama, kita harus punya storytelling yang bagus, ada plotnya, ada tujuannya, dan ada pesan yang ingin disampaikan,” ujarnya.
Karena itu, Suara Nusantara tidak ingin berhenti sebagai kompetisi mendongeng. Festival ini menjadi ruang latihan bagi anak-anak untuk memahami cerita, mengolah gagasan, menggunakan ekspresi, membangun karakter, dan menyampaikan pesan kepada orang lain.
Setelah Jawa Barat, Cahaya tidak ingin Suara Nusantara berhenti. Rencana pengembangan berikutnya diarahkan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Setelah itu, peluang untuk membawa festival ke Bali, Lampung, dan daerah lainnya juga terbuka.
Namun, Cahaya ingin ekspansi tersebut dilakukan secara bertahap. Dalam satu tahun, penyelenggaraan di sekitar tiga wilayah dinilai lebih realistis agar setiap daerah mendapatkan persiapan dan kolaborasi yang memadai.
Suara Nusantara bukan sekadar membawa sebuah lomba ke daerah. Ia ingin membawa sebuah panggung yang mempertemukan cerita, bahasa, budaya, dan manusia. Dari satu daerah ke daerah lain, dari satu cerita ke cerita berikutnya.
Selama masih ada anak yang mau bercerita dan ada orang yang mau mendengarkan, suara Nusantara akan selalu punya tempat untuk hidup.
