Jakarta – Komitmen terhadap pembangunan manusia menjadi sorotan dalam pertemuan yang dibagikan oleh Cahaya Manthovani ketika berkesempatan mewawancarai Prof. Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
“Hal yang paling menonjol adalah pendekatan kepemimpinannya yang menempatkan manusia sebagai prioritas utama,” tulis Cahaya melalui unggahan Instagram pribadinya.
Cahaya menilai pendekatan human-first yang diterapkan Prof. Pratikno sebagai contoh nyata bagaimana budaya kerja birokrasi dapat dibangun dengan empati. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengganti apel pagi formal dengan sesi sinergi yang lebih informal dan humanis.
Model interaksi ini dinilai mampu mengurangi tekanan mental di kalangan aparatur sipil negara (ASN) sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih setara.
Selain itu, pembentukan klub kreatif dan olahraga di lingkungan kerja menjadi upaya membangun koneksi antarsesama pegawai. Aktivitas tersebut tidak hanya memperkuat kebersamaan, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental.
Hal yang paling menarik perhatian Cahaya adalah inisiatif pendokumentasian 107 kisah pribadi pegawai dalam sebuah buku. Menurutnya, langkah ini menunjukkan bahwa setiap individu dalam institusi memiliki suara dan pengalaman yang penting untuk dihargai.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa membangun institusi yang kuat dimulai dari kepedulian terhadap orang-orang di dalamnya. Melalui unggahan ini, Cahaya menegaskan bahwa kepemimpinan yang empatik menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif.
Ia juga mengajak publik untuk melihat bahwa pembangunan manusia tidak hanya berbicara tentang program, tetapi juga tentang cara memperlakukan manusia dengan martabat.
Bincang lengkap mengenai kepemimpinan human-first ini akan segera hadir di Navaswara, sebagai bagian dari upaya menghadirkan narasi inspiratif tentang transformasi budaya kerja yang lebih inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan manusia.
