Share

Bukan Cuma Cantik, Ini Sisi Inspiratif Cahaya Manthovani

Jakarta Yuk berkenalan lebih dekat dengan Cahaya Manthovani. Sukses, cantik, pintar, cerdas, peduli, inspiratif. Begitu kata-kata yang tepat untuk perempuan berambut panjang ini. Seorang sosiopreneur yang dikenal sebagai motor penggerak di bidang gerakan kreatif, pemberdayaan UMKM, dan inklusi sosial.

Managing Director dari Navaswara Bhuwana Kencana — perusahaan event yang berfokus pada program edukasi dan kebudayaan, ini di usia mudanya berhasil mengkombinasikan antara kepemimpinan, kreativitas, dan kepedulian sosial.

Terbukti perusahaan industri kreatif yang dipimpinnya itu sudah dipercaya menghandle berbagai event nasional. Sebut saja Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, Inklusiland 2025, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026, dan Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026.

Uniknya, Cahaya dalam menciptakan suatu event, tidak sekadar berpikir bahwa acara harus megah. Ia juga memikirkan bagaimana setiap event yang dirancang memiliki pesan sosial, budaya, dan pemberdayaan. Dengan kata lain “berdampak”.

Itu yang membuat kiprahnya berbeda dengan yang lain. Memikirkan dampaknya sejauh itu. Kebanyakan lebih kepada bagaimana acara itu megah dan sukses. Tanpa membawa hasil yang membersamai jiwanya atau soulnya.

Ketaktisannya dalam berpikir jauh ke depan ini apa mungkin karena ia lulusan architectural design di Korea Selatan? Negara yang sangat mendorong kreativitas? Bisa jadi demikian. Yang jelas, Pada 2025, ia dianugerahi penghargaan Puspa Nawasena dalam acara Anugerah Puspa Bangsa atas dedikasinya dalam memajukan masyarakat.

Cahaya mengaku berada di titik sekarang hanya mengikuti alur hidupnya. Meski sejatinya, industri kreatif sudah ada di dalam jiwanya sebelum akhirnya berkarier di dunia industri kreatif. Dan, event yang diciptakannya itu, adalah sesuatu yang mengikuti alur hidupnya.

“Saya mengerjakan setiap pekerjaan dengan komitmen yang tinggi. Alhamdulillah orang-orang percaya terhadap saya,” ucap perempuan ramah yang berusia 26 tahun ini.

Di tangan Cahaya, event bukan hanya panggung hiburan atau seremoni. Ia menjadikannya medium untuk membangun percakapan publik mengenai budaya, inklusivitas, hingga pemberdayaan masyarakat. Dengan pendekatan seperti ini membuat Navaswara berkembang sebagai creative movement yang menghadirkan pengalaman sekaligus makna.

“Ketika ingin membuat satu event, kita sendiri harus tahu betul tujuan utamanya itu apa. Efeknya apa? Apakah hanya berguna untuk sendiri atau bisa menginspirasi orang banyak?” pesan  lulusan Kyungsung University, Korea Selatan ini.

Suara Nusantara, misalnya. Ia menginisiasi acara ini karena melihat semua orang kebanyakan sibuk bermain dengan gadgetnya sendiri. Di antara mereka berjarak meski saling berdekatan. Ketika diminta untuk presentasi atau bersosialisasi, lebih banyak yang mundur atau gugup atau tergagap.

“Nah, untuk menaikkan awareness dengan cara yang menyenangkan itu seperti apa sih? Suara Nusantara, misalnya, peserta wajib membaca dan memahami cerita-cerita rakyat di daerah Indonesia. Efek dari event ini bukan saja melestarikan cerita rakyat, tetapi juga meningkatkan percaya diri dan pengalaman para peserta,” ujar Cahaya.

Cahaya juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap isu inklusivitas. Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ini aktif menginisiasi berbagai program sosial untuk anak-anak disabilitas.

Salah satu program yang menjadi sorotan ialah inisiatif Makanan Bergizi Gratis-Swasta untuk sekolah khusus/disabilitas di Provinsi Banten. Program tersebut melibatkan 12 UMKM dan menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat.

Selain itu, ia juga menjadi sosok di balik penyelenggaraan Inklusiland yang digelar dalam rangka Hari Disabilitas Internasional. Acara yang menghadirkan ruang inklusif, mempertemukan komunitas, keluarga, pelaku kreatif, hingga publik umum.

Perempuan bertalenta ini juga pernah bertugas sebagai CDM Asean Youth Paragames 2025 Dubai. Pada ajang olahraga multi event tersebut, kontingen Indonesia sukses mendulang 59 medali, dengan perincian 23 medali emas, 23 medali perak, dan 13 medali perunggu.

Bagi Cahaya, keberhasilan suatu event tidak bisa dibangun sendirian. Ia percaya kolaborasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan dampak yang lebih luas. Bahwa kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban dunia tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama.

Baginya, setiap event yang ia ciptakan tidak cukup hanya dengan posting di sosial media. Perlu ada kerja sama dengan sektor lain. Ini ditujukan untuk mencapai audience baru. Karena itu, ia selalu membuka diri untuk berkolaborasi dengan siapa pun.

Di balik kesuksesannya, Cahaya mengakui perjalanan yang dilaluinya tidak selalu mulus. First impression orang-orang terhadapnya — menganggap dirinya terlalu muda, menjadi tantangan terbesarnya.

“Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat sangat lebih muda dari umur saya, semua orang selalu mengira saya bocah SMP, SMA, atau kuliah. Tidak pernah ada yang mengira saya berusia 26 tahun,” ungkap Cahaya tersenyum.

Namun, tantangan itu menjadi motivasi untuk membuktikan kualitas kerja dan komitmennya. Seiring berjalannya waktu, mereka di belakang pun mengakui kempuannya.

“Saya selalu memposisikan diri saya dan tim sebagai pemenang. Saya tidak ada keinginan lain selain berkomitmen dan fokus terhadap target yang ingin dicapai. Industrinya memang kompetitif. Tapi saya lebih kompetitif dari industrinya sendiri,” lanjut Cahaya.

Konsisten dalam industri kreatif dan kegiatan sosial turut membuat Cahaya menerima sejumlah penghargaan bergengsi. Ia dianugerahi Puspa Nawasena dalam Anugerah Puspa Bangsa 2025 yang digelar Kompas TV dan penghargaan The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.

Di tengah kesibukannya memimpin berbagai proyek kreatif, Cahaya juga terus mendorong anak muda Indonesia untuk berani berkembang dan membangun kapasitas diri. Ia berpesan, anak muda harus sering belajar, sering berlatih skills apa pun yang diminati, sering membaca buku atau berita dan memahaminya.

“Menjadi entrepreneur bukan sesuatu hal yang bisa dibangun secara instan. Perlu waktu dan ketekunan yang lama. Kuncinya adalah percaya diri dan konsistensi terhadap perkembangan diri,” tegasnya, dan itu ia buktikan sendiri.

Bagi banyak anak muda, Cahaya Manthovani menjadi representasi generasi baru pemimpin industri kreatif Indonesia: adaptif, visioner, sekaligus memiliki kepedulian sosial yang kuat.

Sumber: Kompasiana

Cahaya Manthovani