Share

Dari Cerita Rakyat ke Generasi Masa Depan: Kisah Cahaya Manthovani dan Prof. Reda Manthovani

Bogor – Ada cerita yang diwariskan dari orang tua kepada anak. Namun ada pula cerita yang justru tumbuh bersama, lalu dibawa ke ruang yang lebih luas untuk diceritakan kembali.

Bagi Cahaya Manthovani, Festival Suara Nusantara bukan hanya sebuah acara yang ia pimpin sebagai Ketua Panitia. Di dalamnya ada gagasan tentang pendidikan, budaya, anak-anak, dan keberanian untuk bersuara.

Dalam perjalanan tersebut, ada sosok ayahnya, Prof. Dr. Reda Manthovani, S.H., L.L.M., yang turut memberikan dukungan.

Reda melihat storytelling dari sisi yang sangat mendasar, yakni latihan mengolah pikiran. Sementara itu, Cahaya melihatnya sebagai keterampilan yang dapat menjadi bekal masa depan.

Dua perspektif tersebut bertemu pada satu keyakinan yang sama bahwa anak-anak perlu diberi ruang untuk bercerita. Bagi Cahaya, cerita rakyat tidak seharusnya hanya menjadi sesuatu yang tersimpan di buku atau diingat sebagai bagian dari masa lalu.

Cerita harus terus diceritakan, dengan cara yang baru, dengan bahasa generasi sekarang, dan dengan panggung yang semakin luas.

Festival Suara Nusantara 2026 di Jawa Barat menjadi salah satu bukti gagasan tersebut mendapatkan sambutan. Sebanyak 1.120 peserta dari 16 kabupaten dan kota mengikuti proses seleksi.

Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Bagi Cahaya Manthovani, pertumbuhan tersebut menunjukkan anak-anak dan masyarakat masih ingin memiliki ruang untuk bercerita.

Adapun bagi Reda, keberanian seorang anak untuk berdiri di panggung dan menyampaikan cerita merupakan latihan penting untuk masa depannya.

Mungkin mereka belum tahu akan menjadi apa 20 tahun mendatang. Tetapi keberanian untuk berbicara, berpikir, dan menyampaikan gagasan adalah bekal yang akan selalu mereka bawa.

Cahaya Manthovani, Festival Mendongeng Suara Nusantara 2026, Reda Manthovani, Suara Nusantara, Suara Nusantara 2026