Share

Cahaya Manthovani dan Cara Baru Industri Kreatif Indonesia Bergerak Lewat Kolaborasi

Jakarta – Industri kreatif Indonesia terus berkembang dengan hadirnya generasi baru pemimpin muda yang membawa pendekatan lebih segar, kolaboratif, dan penuh makna. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Cahaya Manthovani.

Sebagai Managing Director PT Navaswara Bhuwana Kencana, Cahaya dipercaya memimpin berbagai event nasional yang tidak hanya besar secara skala, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat.

“Semua berawal dari mengikuti alur hidup. Sebagai lulusan architectural design di Korea Selatan, yaitu negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah awal mula saya menjejaki karier,” ujar Cahaya Manthovani.

Perjalanan Cahaya di industri kreatif dimulai dari dunia desain hingga dipercaya menangani berbagai proyek nasional. Baginya, event bukan sekadar acara seremonial, melainkan medium untuk membangun pesan dan pengalaman yang lebih bermakna bagi publik.

“Dari awal industri kreatif sudah ada di dalam jiwa saya, tapi kalau event adalah sesuatu yang mengikuti alur hidup. Dengan saya mengerjakan setiap pekerjaan dengan komitmen yang tinggi, Alhamdulillah orang-orang percaya terhadap saya,” lanjutnya.

Di bawah kepemimpinannya, Navaswara menghadirkan berbagai agenda besar seperti Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, Inklusiland 2025, hingga ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026.

Perempuan lulusan Kyungsung University, Korea Selatan tersebut juga pernah bertugas sebagai CDM Asean Youth Paragames 2025 Dubai. Pada ajang olahraga multi event tersebut, kontingen Indonesia sukses mendulang 59 medali, dengan perincian 23 medali emas, 23 medali perak, dan 13 medali perunggu.

Cahaya menghadirkan pendekatan baru dalam industri event dengan memadukan experience, storytelling, dan social impact dalam satu ekosistem kreatif.

“Ketika ingin membuat sebuah event, kita sendiri harus tahu betul tujuan utamanya itu apa. Efeknya apa? Apakah hanya berguna untuk sendiri atau bisa menginspirasi orang banyak?” kata Cahaya.

Pendekatan tersebut membuat berbagai event garapan Navaswara terasa lebih dekat dengan audiens muda dan mampu membangun engagement publik secara organik.

Di balik kesuksesannya, Cahaya mengakui tantangan terbesar justru datang dari penilaian pertama orang terhadap dirinya.

“Tantangan terbesar adalah first impression orang-orang terhadap saya. Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat sangat lebih muda dari umur saya, semua orang selalu mengira saya bocah SMP, SMA, atau kuliah, tidak pernah ada yang mengira saya berusia 26 tahun,” ungkap Cahaya.

Namun, ia memilih menjadikan tantangan tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan kualitas kerja dan komitmennya.

“Saya selalu memposisikan diri saya dan tim sebagai pemenang, karena saya tidak ada keinginan lain selain berkomitmen dan fokus terhadap target yang ingin dicapai. Industrinya memang kompetitif. Tapi saya lebih kompetitif dari industrinya sendiri,” tegasnya.

ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026, Cahaya Manthovani, Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, InklusiLand 2025