Jakarta – Kepemimpinan seringkali diidentikkan dengan kekuasaan dan pengambilan keputusan. Namun bagi Cahaya Manthovani, kepemimpinan justru dimulai dari hal yang lebih mendasar: empati.
Dalam perjalanannya bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, Cahaya dikenal sebagai pemimpin yang tidak menjaga jarak. Ia hadir langsung di lapangan, berinteraksi dengan penerima manfaat, dan mendengarkan cerita-cerita yang sering kali luput dari perhatian.
Pendekatan ini membentuk cara kepemimpinannya yang khas—tidak hanya berbasis data dan strategi, tetapi juga pengalaman nyata. Baginya, memahami kebutuhan masyarakat tidak bisa dilakukan dari balik meja.
“Kita harus benar-benar mendengar, bukan hanya melihat,” ujarnya dalam salah satu kesempatan.
Empati yang ia bangun kemudian diterjemahkan menjadi aksi yang terukur. Setiap program dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik, bukan sekadar asumsi. Inilah yang membuat berbagai inisiatif yang ia pimpin memiliki dampak yang lebih relevan dan berkelanjutan.
Namun, kepemimpinan Cahaya tidak berhenti pada empati. Ia juga menempatkan kolaborasi sebagai inti strategi. Ia aktif membangun kemitraan dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas, pemerintah, hingga sektor swasta seperti Grab dan OVO.
Baginya, perubahan tidak bisa dicapai secara individual. Dibutuhkan kerja bersama untuk menciptakan dampak yang lebih luas. “Kolaborasi adalah kunci untuk mempercepat perubahan,” katanya.
Selain itu, ia juga dikenal sebagai pemimpin yang berorientasi pada keberlanjutan. Program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada hasil jangka pendek, tetapi dirancang sebagai sistem yang dapat terus berjalan dan berkembang.
Pendekatan ini menjadikan kepemimpinannya tidak hanya efektif, tetapi juga visioner—mampu melihat jauh ke depan tanpa kehilangan akar pada realitas di lapangan.
