Share

Perjalanan Cahaya Manthovani Menemukan Arah dari Empati

Jakarta – Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu titik kecil, yakni sebuah kesadaran. Bagi Cahaya Manthovani, titik itu adalah empati yang tumbuh sejak dini, dari pengalaman melihat langsung berbagai realitas sosial di sekitarnya.

Sejak kecil, ia terbiasa memahami tidak semua orang memiliki akses dan kesempatan yang sama. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap dunia, jika kepedulian bukan sekadar perasaan, tetapi sesuatu yang harus diwujudkan dalam tindakan.

Namun, perjalanan hidupnya tidak langsung mengarah ke dunia sosial. Cahaya memilih menempuh pendidikan di bidang arsitektur di Korea Selatan. Di sana, ia belajar bagaimana merancang, membangun, dan berpikir secara sistematis. Ia memahami bahwa setiap struktur membutuhkan fondasi yang kuat—sebuah prinsip yang kelak ia bawa ke dalam perjalanan sosialnya.

Di tengah proses tersebut, muncul kesadaran baru. Bahwa yang ingin ia bangun bukan hanya bangunan fisik, melainkan ruang hidup yang lebih adil bagi semua orang.

Keputusan untuk keluar dari jalur konvensional menjadi titik balik penting. Alih-alih menjadi arsitek profesional, ia memilih jalan yang lebih menantang: terjun ke dunia sosial.

“Saya melihat banyak potensi yang belum diberi ruang,” ungkapnya.

Langkah tersebut membawanya pada peran sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa. Di sinilah ia mulai mengubah empati menjadi gerakan yang lebih terarah.

Melalui yayasan, Cahaya mengembangkan berbagai program yang berfokus pada pendidikan inklusif, pemberdayaan, dan akses yang setara bagi penyandang disabilitas. Ia percaya bahwa inklusi bukan sekadar memberi ruang, tetapi memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Pendekatan yang ia bangun tidak berhenti pada bantuan jangka pendek. Ia merancang program sebagai sistem yang berkelanjutan, dengan melibatkan berbagai pihak agar dampaknya bisa lebih luas.

Perjalanan ini menjadi fase penting dalam hidupnya—fase di mana empati berubah menjadi aksi nyata, dan kepedulian berkembang menjadi kepemimpinan.

Cahaya Manthovani