Share

Pratikno: Teknologi Harus Jadi Alat, Bukan Pengganti Manusia

Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau AI tak lagi sekadar wacana. Ia telah masuk ke ruang belajar, ruang kerja, bahkan ruang keluarga.

Namun bagi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, laju teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kendali atas arah hidupnya.

Pratikno menegaskan kecakapan digital kini telah menjadi kebutuhan dasar. Meski demikian, ia mengingatkan agar teknologi tidak diposisikan sebagai pengganti manusia.

“Kemampuan memahami teknologi digital kini menjadi keunggulan kompetitif. Namun, teknologi tetap harus dilihat sebagai alat, bukan pengganti manusia,” ucap Pratikno kepada Navaswara, 18 Februari lalu.

“Karena itu, literasi digital dan etika penggunaan AI menjadi perhatian serius pemerintah, terutama bagi generasi muda yang kini akrab dengan layar sejak usia dini,” sambungnya.

Pernyataan itu selaras dengan peluncuran buku Bijak dan Cerdas Ber-AI yang dirilis Kemenko PMK. Buku tersebut hadir sebagai panduan agar masyarakat tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami dampak sosial dan etikanya.

Menurut Pratikno, kemajuan AI memang membuka peluang besar dalam berbagai sektor. Namun tanpa literasi yang kuat, teknologi justru bisa melahirkan tantangan baru, mulai dari disinformasi hingga ketimpangan akses.

AI, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno